Stres Pengasuhan dan Masalah Perilaku Anak: Siklus Dua Arah yang Menyakitkan

Oleh Ning Gendis Hanum Gumintang pada Kamis, 25 Juni 2026
Pengasuhan
Stres pengasuhan dan masalah perilaku anak: Siklus dua arah yang menyakitkan

Pengasuhan memiliki peran mendasar dalam menentukan perkembangan anak dan kesejahteraan keluarga. Beberapa pengalaman membawa kebahagiaan sebagai orang tua, tetapi tidak sedikit pula pengalaman menantang yang sering kali atau bahkan setiap hari harus dihadapi oleh orang tua. Tantangan tersebut dapat berubah menjadi stres dalam pengasuhan yang kompleks, multifaktor, serta berdampak secara luas bagi anak-anak dan orang tua.

Salah satu dampak paling umum dari stres pengasuhan adalah ketidakmampuan anak dalam menyesuaikan diri secara sosioemosional yang ditunjukkan oleh perilaku bermasalah berupa perilaku eksternalisasi dan internalisasi. Perilaku eksternalisasi adalah perilaku bermasalah yang diekspresikan, seperti ketidakpatuhan terhadap aturan, agresi, hiperaktivitas, dan impulsivitas, sedangkan perilaku internalisasi adalah kesulitan di dalam diri yang ditunjukkan dengan penarikan diri, depresi, kecemasan, atau keluhan somatis.

Perilaku bermasalah pada anak yang menimbulkan stres pengasuhan adalah hal yang wajar dan tidak dapat dihindari sepenuhnya. Namun, orang tua dapat mempersiapkan diri untuk menghadapi kondisi tersebut sehingga mampu melewati momen pengasuhan yang sulit dengan langkah yang tepat. Tidak adanya penanganan yang sesuai berisiko menimbulkan permasalahan di kemudian hari pada fungsi sosial, akademik, hingga kesejahteraan psikologis anak. Hal tersebut disebabkan oleh stres pengasuhan yang juga berdampak pada perilaku bermasalah pada anak.

Model Transaksional: Pola Timbal Balik yang Berkelanjutan

Riset-riset terkini menunjukkan adanya hubungan timbal balik antara stres pengasuhan dengan masalah perilaku pada anak dalam berbagai konteks keluarga, seperti dalam peran ayah dan ibu, ibu tunggal, atau keluarga dengan risiko sosioekonomi (Chiang & Bai, 2024; Crnic, 2024; Dijk et al., 2022; Jiang et al., 2021). Hal tersebut menunjukkan bahwa tidak hanya perilaku bermasalah pada anak yang menimbulkan stres pengasuhan orang tua, tetapi juga adanya stres pengasuhan dapat mengakibatkan masalah perilaku pada anak di kemudian hari.

Berdasarkan hasil studi longitudinal, stres pengasuhan ketika anak berusia 5 tahun memprediksi perilaku bermasalah pada anak saat berusia 9 tahun. Di sisi lain, peningkatan masalah perilaku pada anak ketika berusia 5 tahun dapat memprediksi peningkatan stres pengasuhan pada saat anak berusia 9 tahun (Dijk et al., 2022). Lebih lanjut, permasalahan pada saat usia 9 tahun dapat membuat pola ini terulang kembali ketika anak menginjak usia 15 tahun (Chiang & Bai, 2024).

Secara spesifik, keterkaitan stres pengasuhan dengan perilaku bermasalah pada anak justru menjadi lebih kuat pada keluarga dengan kasih sayang ibu yang tinggi. Hal ini terjadi karena kasih sayang ibu yang tinggi pada masa kanak-kanak awal dapat memberikan lebih banyak peluang untuk memfasilitasi pengaruh negatif dan tekanan emosional. Sementara itu, pada hubungan dengan kasih sayang yang kurang optimal di mana orang tua atau anak mungkin memiliki kesejahteraan emosional yang rendah, tidak banyak peluang transaksi emosi, perilaku, dan kognisi yang membuat keduanya saling memengaruhi.

Deteksi dan Penanganan Dini di Keluarga

Stres pengasuhan dapat dikenali dengan tanda-tanda yang sederhana, tetapi sering kali terabaikan. Pertama, stres ini tidak terjadi begitu saja, melainkan akumulasi dari masalah-masalah kecil sehari-hari yang menumpuk karena tidak teratasi sehingga seiring berjalannya waktu melebihi kemampuan orang tua untuk menghadapinya. Kedua, persepsi bahwa anak adalah sumber masalah juga dapat memperkuat stres pengasuhan akibat berkurangnya perhatian dan respons positif terhadap perilaku baik anak dan meningkatnya fokus pada perilaku yang dianggap bermasalah.

Terkait perilaku bermasalah pada anak, orang tua dapat mengidentifikasinya melalui perubahan perilaku dengan jangka waktu lebih dari 2 minggu atau perubahan suasana hati yang signifikan dalam waktu singkat. Anak juga dapat menunjukkan gejala fisik, seperti keluhan pusing, mual, sakit perut, atau kelelahan yang tidak disebabkan oleh kondisi kesehatan tubuh melainkan oleh tekanan psikologis. Dampak lain yang mungkin tidak langsung terlihat adalah penurunan prestasi akademik, konsentrasi dalam belajar, dan permasalahan sosial dengan orang lain di sekolah atau lingkungan sekitar. 

Tanda-tanda tersebut lebih mudah dikenali ketika orang tua mampu menerima bahwa perilaku anak dapat disebabkan oleh pengasuhan yang diterapkan. Berikut adalah beberapa tips yang dapat dilakukan orang tua untuk mencegah siklus stres pengasuhan dan masalah perilaku pada anak:

  1. Melakukan aktivitas fisik
    Suasana hati dapat memengaruhi dan dipengaruhi oleh kondisi fisik. Latihan seperti aerobik dapat mencegah stres psikologis sekaligus meningkatkan suasana hati. Meskipun demikian, pilihlah olahraga yang dapat dinikmati sesuai preferensi.
  2. Memetakan pikiran negatif
    Ketika menghadapi situasi sulit, tidak mudah untuk berpikir secara jernih. Namun, studi membuktikan bahwa individu dapat mengatasi stres lebih baik ketika mampu melihat situasi secara objektif dari sudut pandang yang berbeda, tidak harus menjadi positif, tetapi setidaknya lebih netral, sebagai peluang untuk berkembang.

  3. Membimbing anak mempelajari keterampilan emosional
    Orang tua berperan penting dalam menentukan bagaimana anak mengatasi stresnya. Pembicaraan yang tenang, optimis, dan konstruktif tentang emosi dapat membantu anak mengembangkan keterampilan sosial, empati, dan pengendalian diri yang baik.

  4. Meluangkan waktu untuk berkegiatan bersama di alam
    Ketegangan, amarah, dan emosi tidak menyenangkan lainnya dapat dikurangi dengan menghabiskan waktu di luar ruangan. Hal tersebut terjadi karena penurunan kortisol secara alami yang membuat tubuh lebih rileks dan tekanan darah menurun.

  5. Membangun dukungan sosial yang sehat
    Sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi budaya kolektivis, dukungan dari lingkungan sangat penting bagi setiap keluarga. Tidak hanya dari keluarga besar atau tetangga, saat ini komunitas secara daring juga mampu membantu orang tua untuk berbagi keluh kesah dan pengalaman sehingga dapat menguatkan satu sama lain.

Orang tua dan anak memiliki peran masing-masing dalam keluarga yang sama pentingnya. Ketika terdapat satu peran yang tidak terpenuhi dengan baik, setiap anggota keluarga dapat merasakan dampaknya. Oleh karena itu, penting bagi keluarga untuk membangun ketangguhan yang tidak hanya berlaku untuk orang tua, tetapi juga bagaimana strategi pengasuhan dilaksanakan. Langkah selanjutnya adalah melakukan konsultasi atau konseling psikologi bersama profesional di psyhub.id untuk menentukan strategi pengasuhan yang relevan berdasarkan dinamika keluarga Anda. 

The way to make repairs in relationships is first by working to change your responses, that is, to recognize your triggers and use that knowledge to react in a different way.

- Phillippa Perry, penulis buku The Book You Wish Your Parent Had Read (And Your Children Will be Glad That You Did)

Referensi

Chiang, S. C., & Bai, S. (2024). Bidirectional associations between parenting stress and child psychopathology: The moderating role of maternal affection. Development and Psychopathology, 36, 1810-1820. https://doi.org/10.1017/S0954579423001177

Crnic, K. A. (2024). Parenting stress and child behavior problems: Developmental psychopathology perspectives. Development and Psychopathology, 36, 2369-2375. https://doi.org/10.1017/S0954579424001135

Dijk, W. V., de Moor, M. H. M., Oosterman, M., Huizink, A. C., & Matvienko-Sikar, K. (2022). Longitudinal relations between parenting stress and child internalizing and externalizing. https://doi.org/10.3389/fnbeh.2022.942363

Behaviors: Testing within-person changes, bidirectionality, and mediating mechanisms. Frontiers in Behavioral Neuroscience, 16. https://doi.org/10.3389/fnbeh.2022.942363

Jiang, Q., Wang, D., Yang, Z., & Choi, J. K. (2021). Bidirectional relationships between parenting stress and child behavior problems in multi-stressed, single-mother families: A cross-lagged panel model. Family Process, 62, 671-686. https://doi.org/10.1111/famp.12796

Ning Gendis Hanum  Gumintang

Penulis: Ning Gendis Hanum Gumintang

Anggota aktif di Psyhub.id

Profil LinkedIn

Cari Informasi
Informasi Terbaru
Stres Pengasuhan dan Masalah Perilaku Anak: Siklus Dua Arah yang Menyakitkan
Ning Gendis Hanum Gumintang

Beberapa pengalaman pengasuhan anak membawa kebahagiaan untuk orang tua, tapi tidak sedikit pula pengalaman menantang sering kali harus dihadapi.

Manajemen Talenta 101: Strategi Mengelola SDM sebagai Aset Bisnis Berkelanjutan
R Putri Naya S

Manajemen talenta adalah kunci daya saing organisasi. Pelajari konsep, manfaat, dan strategi praktis untuk mengelola SDM sebagai aset strategis.

Paradoks Pasar Kerja: Menavigasi Rintangan Indonesia Emas 2045
Norhendra Ardhanaputra

Kondisi paradoks pasar kerja yaitu calon pekerja sulit mencari pekerjaan sementara sektor industri sulit mencari pekerja. Kerangka skill tree dapat membantu mengatasi fenomena paradoks ini.

Terapi Kognitif Perilaku (CBT) untuk Anak: Cara Efektif Membantu Mengelola Emosi dan Perilaku
Ning Gendis Hanum Gumintang

Terapi kognitif perilaku untuk anak membantu mengelola emosi, kecemasan, dan perilaku secara ilmiah dan praktis.

Webinar Career Journey: Menemukan Pekerjaan yang Cocok dengan Diri Kamu
Rahmad Alfianto

Sudah lulus, masih kuliah, atau sudah bekerja tapi masih mencari arah karier yang benar-benar sesuai dengan diri?