Terapi Kognitif Perilaku (CBT) untuk Anak: Cara Efektif Membantu Mengelola Emosi dan Perilaku

Oleh Ning Gendis Hanum Gumintang S.Psi. pada Sabtu, 31 Januari 2026
Pengasuhan
Terapi kognitif perilaku (CBT) untuk anak: Cara efektif membantu mengelola emosi dan perilaku

Isu kesehatan mental yang kian diperhatikan menjadi ’pedang bermata dua’, di mana meningkatnya kesadaran dan wawasan tentang pentingnya jiwa yang sehat berbanding lurus dengan meningkatnya perilaku diagnosis mandiri atas kondisi mental yang dirasakan. Hasil riset I-NAMHS tahun 2022 menunjukkan 34,9 persen atau setara satu dari tiga anak dan remaja usia 10-17 tahun di Indonesia memiliki masalah kesehatan mental. Namun, hanya sekitar 2,6 persen di antaranya yang menggunakan layanan kesehatan mental (Wahdi et al., 2023). Hal tersebut menunjukkan bahwa kesadaran akan kondisi mental belum diimbangi dengan kesadaran untuk melakukan upaya untuk mengatasi masalah kesehatan mental secara tepat melalui asesmen psikologi dan intervensi berbasis bukti ilmiah.

Pentingnya Pendekatan Psikologis untuk Anak

Bagi anak-anak, permasalahan terkait kesehatan mental yang paling umum terjadi dikelompokkan menjadi dua, yakni masalah emosional (internalizing) dan keperilakuan (externalizing). Masalah emosional berkaitan dengan emosi yang membuat tidak nyaman anak, seperti kecemasan, ketakutan atau kekhawatiran yang berlebih, hingga kondisi somatis atau rasa sakit fisik yang tidak disebabkan oleh kondisi medis. Di sisi lain, masalah keperilakuan berkaitan dengan tingkah laku yang ditunjukkan anak ketika merasa tidak nyaman, seperti tantrum, agresif, perilaku pembangkangan, bahkan pengrusakan.

Kondisi tersebut dapat disebabkan berbagai faktor. Beberapa di antaranya adalah faktor biologis atau keturunan, pola asuh yang diterima, serta lingkungan di mana anak tumbuh dan berkembang. Tingkat keparahan kondisinya juga beragam, bergantung pada interaksi di antara faktor-faktor tersebut. Meskipun demikian, berbagai riset sudah menunjukkan praktik berbasis bukti ilmiah (evidence-based practice) untuk membantu mengatasi masalah kesehatan mental anak, salah satunya adalah melalui terapi kognitif keperilakuan (CBT) untuk anak.

Mengenal Terapi Kognitif Perilaku (CBT) untuk Anak

CBT adalah salah satu bentuk terapi psikologi yang sudah mendapat title ‘gold standard’ dengan banyaknya jumlah bukti ilmiah mengenai tingkat efikasi terapi ini yang tinggi. Keunikan dari CBT sejalan dengan efektivitasnya adalah gagasan dalam menangani pikiran manusia. Proses berpikir memiliki peran penting dalam berbagai pencapaian manusia karena tidak dapat dipisahkan dengan emosi dan perilaku sehingga menjadi salah satu cara untuk mengatasi berbagai permasalahan. CBT pada anak mendorong anak untuk dapat berpikir tentang pengalamannya, melakukan penyelesaian masalah, dan terlibat dalam percakapan dengan orang dewasa mengenai hidupnya dan permasalahannya.

Pada dasarnya, CBT dapat diterapkan sejak anak usia prasekolah. CBT untuk anak dikembangkan melalui teori perkembangan kognitif, seperti oleh Piaget dan Vygotsky yang kemudian dikaitkan dengan aspek-aspek inti dari praktik CBT. Penerapan strategi kognitif pada anak yang lebih muda disesuaikan dengan pengurangan frekuensi dan efektivitas sehingga praktiknya cenderung sederhana dan tidak terlalu sulit untuk dilakukan. Namun, pada anak yang usianya lebih tinggi (di atas tujuh tahun), strategi yang diterapkan akan lebih kompleks dan terstruktur meski tidak serumit untuk remaja atau orang dewasa (Fuggle et al., 2013).

Manfaat CBT dalam Membantu Anak Mengelola Emosi dan Perilaku

CBT untuk anak dapat membantu mengatasi masalah hingga gangguan psikologis, seperti kecemasan, depresi, OCD, autisme (ASD), gangguan kecemasan pascatrauma (PTSD), dan atau gangguan tingkah laku (DBD) (Friedberg et al., 2021)

  1. Gangguan Kecemasan
    Kecemasan adalah permasalahan yang umum terjadi pada anak-anak karena seiring dengan proses anak menerima atau beradaptasi dengan pengalaman baru. Namun, rasa cemas yang berlebihan dan mengganggu keseharian anak, misalnya dalam aktivitas sosial. Berdasarkan hasil berbagai riset, CBT terbukti menjadi pendekatan yang berstandar tinggi untuk mengatasi gangguan kecemasan pada anak dan remaja.
  2. Depresi
    Depresi pada anak umumnya muncul ketika kerentanan dalam suasana hati dan sistem di otak bertemu dengan stres berulang atau pengalaman tidak menyenangkan di konteks keluarga, sekolah, atau teman sebaya. Riset menunjukkan bahwa CBT pada anak dan remaja yang juga ditunjang dengan pengobatan medis dapat menurunkan gejala-gejala dengan cepat sekaligus meningkatkan keberfungsian.
  3. OCD
    Anak dengan orang tua atau kerabat yang memiliki riwayat OCD menunjukkan risiko yang lebih tinggi. Selain itu, anak dengan sifat perfeksionis, kaku, tanggung jawab berlebih, atau kecemasan tinggi juga meningkatkan kerentanan. CBT pada OCD umumnya diterapkan dengan terapi eksposur dan pencegahan respons dengan keberhasilan 50-70 persen mencapai respons/remisi setelah sesi berakhir
  4. Sindrom Autisme (ASD)
    Sindrom autisme umumnya muncul oleh gabungan faktor genetik dan lingkungan masa awal kehidupan yang memengaruhi perkembangan otak sebelum atau beberapa saat setelah kelahiran. Penerapan CBT mampu meningkatkan hubungan pertemanan, kepercayaan diri, dan regulasi emosi pada anak dengan autisme.
  5. Gangguan Kecemasan Pascatrauma (PTSD)
    Sindrom autisme umumnya muncul oleh gabungan faktor genetik dan lingkungan masa awal kehidupan yang memengaruhi perkembangan otak sebelum atau beberapa saat setelah kelahiran. Penerapan CBT mampu meningkatkan hubungan pertemanan, kepercayaan diri, dan regulasi emosi pada anak dengan autisme.
    Penanganan gangguan dengan CBT yang berfokus pada trauma atau TF-CBT terbukti efektif dalam mengatasi masalah kecemasan, depresi, dan rasa malu yang diasosiasikan dengan PTSD. Selain itu, metode ini juga dapat diterapkan pada pasien dengan rentang usia yang beragam serta berbagai latar belakang konteks yang memengaruhinya.
  6. Disruptive behavior disorder DBD
    Anak dengan DBD menunjukkan penurunan tingkat perilaku agresif/impulsif, penyalahgunaan zat, serta masalah perilaku lainnya dengan penanganan CBT. Salah satu penerapannya adalah dengan problem solving skill training (PSST) yang dikombinasikan dengan token ekonomi sebagai bentuk terapi perilaku untuk memperkuat perilaku yang diinginkan.

Contoh Teknik CBT yang Umum Diterapkan pada Anak

Penerapan metode CBT pada anak disesuaikan dengan teknik yang digunakan. Berikut adalah beberapa teknik CBT yang umum digunakan pada anak (Fuggle, et al., 2013):

  1. Mendorong Perubahan Positif
    Aspek penting pada teknik ini adalah mengembangkan tingkat perubahan kognitif pada orang tua atau pengasuh yang melibatkan perhatian pada perilaku positif anak yang mungkin selama ini kurang diperhatikan. Melalui teknik ini, perilaku negatif anak dapat berkurang karena perhatian orang di sekitarnya lebih ditekankan pada perilaku anak yang positif.
  2. Aktivasi Perilaku
    Teknik aktivasi perilaku atau dapat disebut juga penjadwalan aktivitas mendorong anak untuk melakukan aktivitas dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan jadwal yang sudah ditetapkan bersama. Tujuannya bukan untuk meningkatkan aktivitas anak, tetapi untuk membantunya memahami hubungan antara aktivitas tersebut dengan suasana hatinya.
  3. Eksposur (Paparan)
    Inti dari teknik ini adalah bahwa menghindari situasi, pengalaman, atau hubungan yang ditakuti justru membuat rasa takut tersebut semakin parah dan mendalam seiring berjalannya waktu. Eksposur bertujuan untuk membalik pola tersebut melalui proses paparan bertahap sehingga anak menyadari bahwa ketakutannya dapat berkurang atau hal yang dihindari tidak seburuk itu.

Meskipun pendekatan CBT sudah teruji keberhasilannya, tetapi tidak semua permasalahan psikologis anak otomatis dapat diatasi dengan CBT. Kondisi anak yang masih berada pada tahap perkembangan bahasa dapat menimbulkan kesulitan dalam mengekspresikan dan merasakan perasaan akibat kurangnya kosa kata tentang emosi dan terbatasnya kemampuan dalam memberi nama pada perasaan yang dirasakan. Selain itu, beberapa anak belum mampu mendalami bukti perilaku untuk membantunya memiliki cara berpikir yang lebih tepat. Oleh karena itu, pemahaman profesional mengenai konteks perkembangan dan lingkungan anak penting untuk dipertimbangkan.

CBT adalah pendekatan berbasis keterampilan yang bertujuan untuk mengedukasi dan melibatkan anak dengan orang-orang di sekitarnya untuk mempelajari perilaku adaptif, keterampilan penyelesaian masalah, dan perkembangan gangguan psikologis akibat pola berpikir yang keliru. Peran profesional di bidang ini, seperti psikolog dan psikiater penting untuk menyelaraskan seluruh tujuan tersebut. Oleh karena itu, selain penting untuk menerapkan metode yang sesuai dengan tahap perkembangan anak dan keterlibatan profesional, CBT juga membutuhkan keterlibatan orang terdekat anak, seperti orang tua atau pengasuh lain, guru, hingga saudara atau teman sebaya.

“Mental health of young people is a right, not a privilege.” 
- UNICEF

Setiap anak memiliki cara unik dalam mengekspresikan emosi dan perilakunya. Ketika perubahan yang muncul terasa mengganggu keseharian atau menetap dalam jangka waktu lama, penting untuk tidak hanya menebak penyebabnya. Melalui asesmen psikologi, orang tua dan guru dapat memahami kebutuhan anak secara lebih objektif dan menyeluruh.

Langkah selanjutnya adalah melakukan konsultasi atau konseling psikologi bersama profesional di psyhub.id untuk menentukan pendekatan yang tepat sejak dini dalam membantu anak mengembangkan keterampilan emosi dan perilaku yang lebih adaptif untuk masa depannya.

Referensi

Friedberg, R., Portera, S., Toyama, H., Joves, J., Mehta, A., Giannini, C., & Honnoert, S. (2021, January 13). The efficacy and effectiveness of CBT for youth: A summary of the literature. Beck Institute. Retrieved on January, 24th 2026 from https://beckinstitute.org/blog/efficacy-and-effectiveness-of-cbt-for-youth/

Fuggle, P., Dunsmuir, S., & Curry, V. (2013). CBT with children, young people & families. SAGE Publications Ltd. https://doi.org/10.4135/9781473914858

Wahdi, A. E., Wilopo, S. A., & Erskine, H. E. (2023). The prevalence of adolescent mental disorders in Indonesia: An analysis of Indonesia – National Mental Health Survey (I-NAMHS). Journal of Adolescent Health, 72(3). https://doi.org/10.1016/j.jadohealth.2022.11.143

Ning Gendis Hanum  Gumintang S.Psi.

Penulis: Ning Gendis Hanum Gumintang S.Psi.

Anggota aktif di Psyhub.id

Profil LinkedIn

Cari Informasi
Informasi Terbaru
Paradoks Pasar Kerja: Menavigasi Rintangan Indonesia Emas 2045
Norhendra Ardhanaputra

Kondisi paradoks pasar kerja yaitu calon pekerja sulit mencari pekerjaan sementara sektor industri sulit mencari pekerja

Terapi Kognitif Perilaku (CBT) untuk Anak: Cara Efektif Membantu Mengelola Emosi dan Perilaku
Ning Gendis Hanum Gumintang S.Psi.

Terapi kognitif perilaku untuk anak membantu mengelola emosi, kecemasan, dan perilaku secara ilmiah dan praktis.

Webinar Career Journey: Menemukan Pekerjaan yang Cocok dengan Diri Kamu
Rahmad Alfianto S.Psi. M.M.

Sudah lulus, masih kuliah, atau sudah bekerja tapi masih mencari arah karier yang benar-benar sesuai dengan diri? 

Psikologi Pertemanan: Ciri Relasi yang Berkualitas
Bertha Kristiyanti S.Psi. M.Psi.

Pelajari ciri-ciri pertemanan berkualitas menurut psikologi, yang disertai penjelasan indikator penting, cara menilai diri dan lingkaran pertemanan

Soft Skill: Kunci Utama Sukses di Dunia Kerja Modern
Norhendra Ardhanaputra

Pelajari mengapa soft skill menjadi penentu kesuksesan dunia kerja modern, serta cara mengembangkannya agar siap menghadapi tantangan profesional