Paradoks Pasar Kerja: Menavigasi Rintangan Indonesia Emas 2045

Indonesia sedang menuju Indonesia Emas 2045 dengan adanya potensi bonus demografi, yaitu angkatan kerja yang luas dan beragam. Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi rencana strategis pemerintah untuk memaksimalkan potensi ini. Namun, kenyataan di lapangan menggambarkan banyak pencari kerja yang tidak memiliki latar pendidikan sesuai posisi yang dilamar. Mereka juga memilih pekerjaan bukan karena keterampilan, tetapi karena keterbatasan pilihan dan kebutuhan finansial (Handayani, 2025). Kondisi ini menciptakan paradoks pasar kerja, yaitu lulusan tidak terarah secara optimal, sementara sektor industri kesulitan menemukan SDM sesuai kebutuhan.
Paradoks ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan hanya kualitas individu sebagai calon pekerja, melainkan belum optimalnya mekanisme penghubung pemenuhan kebutuhan SDM dari hulu dengan potensi SDM yang tersedia di hilir. Orientasi yang dikejar oleh para calon pekerja maupun bidang industri dalam memenuhi pasar kerja masih hanya bertumpu pada standar umum, seperti perolehan gelar, perolehan lama pengalaman, atau penguasaan daftar keterampilan khusus. Selain itu, kemampuan yang tidak kalah penting dalam mengoptimalkan kesiapan kerja, yaitu soft skill, juga tidak jarang terabaikan atau bahkan sulit untuk dipelajari tanpa terjun langsung di lingkungan pekerjaan. Karena kondisi tersebut, pasar kerja kehilangan kesempatan menemukan bakat yang sebenarnya tersedia dan berkualitas, sementara generasi muda menghabiskan bertahun-tahun belajar yang belum tentu selaras dengan kebutuhan industri.
Tantangan utama dalam mengatasi paradoks ini adalah mengetahui bagaimana calon pekerja membangun peta kompetensi dan pengetahuan yang tepat sesuai kebutuhan industri. Urgensi menjawab tantangan ini semakin besar ketika mempertimbangkan bahwa kesalahan alokasi talenta akan berdampak pada daya saing ekonomi dalam 20–25 tahun ke depan. Paradoks pasar kerja ini bukan hanya frustrasi statistik, melainkan risiko strategis yang krusial. Walaupun telah tersedia 19 juta lapangan kerja yang layak, jika sistem penghubung di pasar kerja masih kurang optimal, paradoks ini akan terus menjadi siklus kejam dan berdampak besar baik secara individu maupun nasional.
Terinspirasi oleh etos kerja budaya di Jepang, terdapat konsep IKIGAI yang berpotensi membantu menjawab tantangan di atas. Penelitian menggunakan konsep IKIGAI untuk menjelaskan pentingnya menyeimbangkan passion, mission, profession, dan vocation, yang memungkinkan pemetaan talenta lebih personal serta relevan sesuai kebutuhan industri (Wartoyo dkk., 2025). Penelitian di psikologi juga menunjukkan bahwa pemahaman materi baru sangat bergantung pada fondasi pengetahuan yang sudah ada dalam memori jangka panjang. Tanpa fondasi ini, belajar akan jauh lebih sulit, meskipun latihan berulang dapat membantu (Bilalić dkk., 2023).
Berbagai budaya populer fantasi juga mampu merepresentasikan pembelajaran sebagai proses bertahap dan bercabang yang dapat dinavigasi oleh individu sehingga mirip dengan konsep Ikigai. Salah satu contohnya adalah anime Jepang Hunter x Hunter, melalui sistem Nen dengan mengetahui jenis afinitas alami seseorang, dapat membantu memahami kemampuan yang paling mudah dikuasai dan menjadi dasar untuk menyesuaikan gaya bertarung (Yehia, 2024). Contoh lain adalah sistem skill tree pada permainan The Elder Scrolls yang dapat dinavigasi oleh pemain untuk menentukan tingkat kemahiran pada kemampuan secara spesifik maupun secara umum (Asif, 2023).
Kerangka skill tree ini dapat diadaptasi sebagai teknologi pemetaan kompetensi untuk membantu mengatasi fenomena paradoks di Indonesia. Hal tersebut didukung oleh penelitian yang menjelaskan mengenai kerangka fondasi pengetahuan dalam memori jangka panjang untuk mempermudah pembelajaran (Bilalić dkk., 2023), serta pentingnya menyeimbangkan komponen Ikigai dalam pemetaan talenta (Wartoyo dkk., 2025). Indonesia sebenarnya telah memiliki standar kerangka kompetensi kerja (SKKNI) formal yang disahkan oleh pemerintah. Namun, implementasinya di lapangan masih perlu dioptimalkan, khususnya dengan dukungan teknologi serta kesinambungan antara kebutuhan industri dan pelatihan yang tersedia (Rosiana & Bintari, 2025).
"Kenali dirimu sendiri dan kamu akan memenangkan semua pertempuran"
-Sun Tzu, The Art of War
Psyhub.id menerapkan pendekatan skill tree berbasis riset untuk membantu menavigasi tantangan ini dalam produk tematik Talent Mapping untuk industri dan Career Journey untuk calon pekerja. Temukan talenta dengan potensi terbaik bagi industri dan arah pengembangan penting bagi calon pekerja untuk kesiapan karier dengan menjadwalkan konsultasi bersama konselor terpercaya psyhub.id
Referensi
Asif, A. (2023, May 13). Skyrim skill tree and perks guide. Segment Next. Retrieved February 8, 2026, from https://segmentnext.com/elder-scrolls-v-skyrim-skills-and-perk-tree-guide/
Bilalić, M., Đokić, R., Koso-Drljević, M., Đapo, N., & Pollet, T. (2023). When (deliberate) practice is not enough – the role of intelligence, practice, and knowledge in academic performance. Current Psychology, 42(27), 23147–23165. https://doi.org/10.1007/s12144-022-03336-z
Rosiana, I., & Bintari, A. (2025). Evaluasi kebijakan pemerintah tentang pelatihan berbasis kompetensi di Kota Bandung pada tahun 2022-2023. Jurnal Governansi, 11(1), 35–50. https://doi.org/10.30997/jgs.v11i1.15989
Handayani, F. P. (2025, March 20). Job mismatch: Permasalahan serius yang perlu diperhatikan. Populix. https://info.populix.co/articles/job-mismatch/
Wartoyo, W., Wahyono, W., & Hadi, M. L. (2025). Implementation of talent mapping through the ikigai concept self-assessment system of human resources competencies in welcoming Indonesia gold 2045. Journal of Humanities and Social Sciences Studies, 7(2), 59–67. https://doi.org/10.32996/jhsss.2025.7.2.6
Yehia, A. (2024, July 31). Hunter x Hunter: The six nen types, explained. Game Rant. Retrieved February 8, 2026, from https://gamerant.com/hunter-x-hunter-the-six-nen-types/
Bagikan artikel ini
Penulis: Norhendra Ardhanaputra
Peneliti dan pengembang program yang mengintegrasikan psikologi dan teknologi digital untuk memecahkan permasalahan.