Psikologi Pertemanan: Ciri Relasi yang Berkualitas

Oleh Bertha Kristiyanti S.Psi. M.Psi. pada Minggu, 14 Desember 2025
Sosial
Psikologi pertemanan: Ciri relasi yang berkualitas

Setiap individu memilki tugas perkembangan yang perlu diselesaikan pada setiap tahapannya. Pada teori perkembangan psikososial Erik Erikson, individu pada masa dewasa awal (18-40 tahun) memasuki tahap intimacy vs isolation. Tugas utama individu yang perlu dicapai adalah mampu membangun hubungan dekat dengan orang lain. Hubungan dekat yang dimaksudkan tidak hanya tentang relasi romantis, tapi juga tentang pertemanan.

Dalam menjalin pertemanan yang baik, seseorang perlu membuka diri, membangun kedekatan emosional, serta memberikan rasa keterhubungan satu sama lain. Pada tahap intimacy vs isolation, apabila seseorang berhasil melewati tahap ini, maka seseorang akan memiliki hubungan yang memuaskan dan langgeng. Namun sebaliknya, ketika seseorang kesulitan dalam menjalin relasi, maka dapat mengakibatkan isolasi diri. 

Seseorang yang mengisolasi diri dapat berujung pada permasalahan kesehatan mental di kemudian hari.  Bahkan menurut laporan terbaru WHO (2025), 100 kematian terjadi setiap jam akibat kesepian. Ini berarti setiap 36 detik seseorang kehilangan nyawanya, dengan total lebih dari 871.000 jiwa terjadi kematian akibat kesepian dalam setiap tahunnya.

Membangun hubungan dekat tidak menjadi hal sulit jika seseorang sudah memiliki rasa nyaman ketika menjalin komunikasi dengan orang lain. Komunikasi yang dibangun dengan kenyamanan akan membuka kesempatan bagi seseorang untuk menjalin hubungan yang lebih dekat dalam pertemanan. Ketika seseorang mampu membangun hubungan dekat dengan orang lain, mereka tidak hanya memiliki relasi antar individu, namun juga berpeluang untuk dapat terhubung dalam pertemanan kelompok yang lebih luas. 

Pertemanan yang Berkualitas

Pertemanan memiliki peran penting dalam perkembangan manusia. Pertemanan ditandai dengan adanya hubungan timbal balik, dukungan emosional, dan juga berbagai keberagaman. Pertemanan dapat terjalin dalam hubungan yang saling mendukung dan memiliki kedekatan emosional dengan berbagai interaksi yang menyenangkan. Arti pertemanan tidak hanya dipahami sebagai proses interaksi dengan orang lain, melainkan juga sebagai hubungan sosial yang memiliki makna emosional dan psikologis bagi individu.

Kualitas pertemanan berkaitan erat dengan kesejahteraan mental seseorang. Pertemanan yang sehat dapat membantu individu untuk meningkatkan harga diri, merasa didukung, mendorong pertumbuhan pribadi, baik secara psikologis, emosional, maupun intelektual. Dalam konteks psikologi, pertemanan tercermin dengan adanya rasa kebersamaan, saling percaya, kedekatan emosional, keintiman, serta kemampuan untuk menghadapi konflik.

Ciri Pertemanan Sehat

  • Kebersamaan
    Pertemanan yang akrab ditandai dengan adanya aktivitas bersama yang dilakukan bersama teman, seperti menemani dan mengantar teman dalam berkegiatan, membersamai dan menghibur teman ketika sedang dalam masalah.
  • Kepercayaan
    Perasaan nyaman dapat membuat seseorang menjadi lebih percaya dan terbuka. Seseorang yang telah percaya kepada orang lain akan lebih terbuka dalam menceritakan berbagai cerita, seperti perkuliahan, percintaan, maupun keluarga.
  • Keakraban
    Tingginya interaksi dengan orang lain akan membuat seseorang saling mengenal satu sama lain hingga terbentuk keakraban dalam hubungan pertemanan yang berkualitas.
  • Kedekatan emosional
    Relasi berkualitas dalam pertemanan dapat memunculkan rasa empati. Ketika seseorang mengalami permasalahan, seorang teman dapat merasakan apa yang dirasakan oleh temannya.
  • Konflik yang rendah
    Pertemanan yang sehat ditandai dengan rendahnya konflik atau kemampuan antar individu dalam menyelesaikan konflik. Realitanya, interaksi komunikasi yang terjadi antar individu tidak selalu melibatkan konflik, namun juga mendorong adanya kesepakatan.

Namun sayangnya tidak semua pertemanan dapat berjalan dengan sehat. Tidak sedikit orang yang terjebak dalam pertemanan yang tidak sehat atau pertemanan toxic. Pertemanan toxic dapak memicu terjadinya konflik internal pada individu. Pertemanan toxic biasanya cenderung merugikan dan hubungan cenderung berjalan satu arah.

Hubungan toxic biasanya ditandai dengan ketidakseragaman respon emosional, terjadinya manipulasi emosi, hingga pengucilan sosial. Bahkan pertemanan toxic ini mengakibatkan penurunan kesejahteraan psikologis individu karena dapat memicu timbulnya kecemasan, stres, harga diri rendah, hingga perasaan tidak berdaya.

Untuk mengetahui bagaimana kualitas pertemanan Anda, silahkan kunjungi link berikut, skala kualitas pertemanan

Membangun Pertemanan Sehat

Cherry (2025) membagikan tips meningkatkan kedekatan hubungan pertemanan

  • Memiliki pemahaman yang kuat tentang diri sendiri
  • Membangun keintiman dan kedekatan emosinal kepada teman
  • Bersikap peduli kepada teman dengan cara hadir saat teman membutuhkan dan menawarkan perhatian
  • Mengomunikasikan tujuan dan membuat rencana jangka panjang dalam pertemanan
  • Bersikap terbuka dan mengungkapkan diri kita kepada teman
  • Berkomunikasi, menetapkan tujuan, dan membuat rencana jangka panjang juga merupakan cara efektif untuk menunjukkan kepada seseorang bahwa Anda serius dalam hubungan tersebut.

“Kelilingi dirimu dengan orang-orang yang akan mengangkatmu ke level yang lebih tinggi.”. 
– Oprah Winfrey

Banyak orang memiliki teman, tetapi tidak semua memiliki pertemanan yang benar-benar mendukung kesehatan mental dan pertumbuhan diri. Jika dalam hubungan pertemanan justru membuatmu lelah secara emosional, ragu pada diri sendiri, atau bahkan merasa sendirian, ini saatnya berhenti sejenak dan bertanya: apakah pertemanan ini sehat untukku?

Kenalilah kualitas pertemanan melalui asesmen sederhana di atas. Ambil langkah nyata untuk membangun relasi yang saling mendukung dan lebih bermakna dengan menjadwalkan konsultasi bersama psyhub.id.

 

Referensi

Cherry, K. (2025, October 30). Intimacy vs. isolation: Forming intimate relationships with others. Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/intimacy-versus-isolation-2795739

Alsarrani, A., Hunter, R.F., Dunne, L. et al. Association between friendship quality and subjective wellbeing among adolescents: A systematic review. BMC Public Health 22, 2420 (2022). https://doi.org/10.1186/s12889-022-14776-4

Oktawirawan, D. H., & Kristiyanti, B. (2024). Kawan dalam keberagaman: Realitas hubungan pertemanan beda agama di IndonesiaJurnal Empati, 13(2). https://doi.org/10.14710/empati.2024.43412

Bruna de Jesus Lopes., (2023), Friendship quality scale: Adaptation and psychometric evidence, psychology and mental health care, 7(5): https://doi.org/10.31579/2637-8892/216

Fadhilla, R., & Siregar, A. P. (2024). Pengaruh pertemanan yang tidak sehat terhadap kondisi kesejahteraan psikologis mahasiswa. Jurnal Inspirasi Pendidikan, 3(3), 138-144. https://doi.org/10.51178/invention.v5i2.2017

Bertha Kristiyanti S.Psi. M.Psi.

Penulis: Bertha Kristiyanti S.Psi. M.Psi.

Project manager yang berpengalaman dalam bidang asesmen psikologi dan manajemen sumber daya manusia.

Profil LinkedIn

Cari Informasi
Informasi Terbaru
Paradoks Pasar Kerja: Menavigasi Rintangan Indonesia Emas 2045
Norhendra Ardhanaputra

Kondisi paradoks pasar kerja yaitu calon pekerja sulit mencari pekerjaan sementara sektor industri sulit mencari pekerja

Terapi Kognitif Perilaku (CBT) untuk Anak: Cara Efektif Membantu Mengelola Emosi dan Perilaku
Ning Gendis Hanum Gumintang S.Psi.

Terapi kognitif perilaku untuk anak membantu mengelola emosi, kecemasan, dan perilaku secara ilmiah dan praktis.

Webinar Career Journey: Menemukan Pekerjaan yang Cocok dengan Diri Kamu
Rahmad Alfianto S.Psi. M.M.

Sudah lulus, masih kuliah, atau sudah bekerja tapi masih mencari arah karier yang benar-benar sesuai dengan diri? 

Psikologi Pertemanan: Ciri Relasi yang Berkualitas
Bertha Kristiyanti S.Psi. M.Psi.

Pelajari ciri-ciri pertemanan berkualitas menurut psikologi, yang disertai penjelasan indikator penting, cara menilai diri dan lingkaran pertemanan

Soft Skill: Kunci Utama Sukses di Dunia Kerja Modern
Norhendra Ardhanaputra

Pelajari mengapa soft skill menjadi penentu kesuksesan dunia kerja modern, serta cara mengembangkannya agar siap menghadapi tantangan profesional